Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2008

Danau Terindah Sedunia Itu....

Sumber : Forumbebas.com
JAYAPURA: Sebanyak 157 utusan dari negara-negara pemilik danau di dunia menurut rencana pada tahun ini akan berkunjung ke Kabupaten Paniai, Papua, untuk melihat dari dekat Danau Paniai yang menyimpan potensi wisata alam yang prospektif.
Bupati Paniai Naftali Yogi kepada Antara di Jayapura,mengatakan, keinginan 157 negara itu disampaikan saat berlangsungnya Konferensi Danau se-Dunia di India pada 30 November 2007.
Bupati Yogi yang juga turut hadir dalam konferensi tersebut mengatakan, negara-negara pemilik danau di dunia itu menilai Danau Paniai di Papua merupakan satu-satunya danau yang terindah dan masih belum dijamah tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.
Dikatakannya, Danau Paniai yang berada pada ketinggian 7.500 meter di atas permukaan laut itu kondisinya sampai sekarang masih alami, karena belum tercemar sehingga menjadi perhatian 157 negara untuk mengunjunginya.
Menurutnya, dalam Konferensi Danau se-Dunia di India itu disepakati pula untuk bersama-sama ikut melestarikan Danau Paniai karena merupakan danau terbaik dan terindah di dunia.
Ia mengatakan, untuk menyambut kedatangan duta 157 negara pemilik danau itu, pihaknya saat ini sedang membangun jalan mengelilingi danau dan rumah-rumah penginapan.
Diharapkan dengan kunjungan 157 negara ke Danau Paniai, maka mereka pun tergerak untuk memberikan bantuan dalam rengka melestarikan danau ini sehingga tetap menjadi danau yang terbaik dan terindah di dunia.
Selain mempersiapkan jalan dan penginapan, kata Bupati Yogi, pihaknya juga terus melestarikan nilai-nilai seni budaya masyarakat setempat yaitu seni budaya Suku Mee dan Suku Moni.
Pelestarian seni budaya tersebut telah dimasukkan ke dalam kurikulum lokal guna diajarkan kepada murid Sekolah Dasar (SD) mulai dari kelas satu sampai kelas enam, demikian Bupati Naftali Yogi menjelaskan.
Bener-bener danau yang indah,tapi kenapa yah tidak mendapat perhatian dari pemerintah???indonesia adalah negara kaya raya yang jadi miskin karena tidak bisa memanfaatkan SDA yang ada,sementara negara-negara lain berlomba-lomba tuk memanfaatkannya...huh. Ironisnya,negara-negara Lain Lebih tau tentang keindahan danau ini dibanding Indonesia sendiri,karena banyak diantara kita ga tau "apa sih itu Danau Paniai" bahkan mungkin baru pertama kali ini denger nama itu........ Kita Bak Tamu Di Negeri Sendiri...

Selasa, 26 Agustus 2008

Danau Tolire Sarat Legenda

Oleh : Wiko Rahardjo
Ada banyak keunikan di Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Hal itu tak terlepas dari legenda yang menyertainya. Benarkah di danau tersebut terdapat banyak buaya siluman berkeliaran?
Jika suatu saat Anda berkunjung ke Kota Ternate, Maluku Utara (Malut), ada baiknya menyempatkan diri ke objek wisata Danau Tolire. Danau ini terletak di Desa Takome, sekitar 10 km dari pusat kota Ternate. Untuk mencapai ke sana, butuh waktu kurang dari setengah jam dengan kendaraan bermotor.
Selain bentuknya yang unik, danau ini juga memiliki cerita legenda yang menarik. Berada di bawah kaki Gunung Gamalama, gunung api tertinggi di Malut, terdapat dua danau, yakni Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil. Jarak antara keduanya hanya sekitar 200 meter.
Mangkuk Raksasa
Danau Tolire Besar memiliki keunikan tersendiri. Bentuknya menyerupai sebuah mangkuk raksasa. Dari pinggir atas hingga ke permukan air danau, dalamnya sekitar 50 meter dengan luas sekitar lima hektare. Hingga kini belum ada yang mengukur kedalaman danau ini. Namun, menurut cerita warga, kedalamannya mencapai berkilo-kilo meter dan berhubungan langsung dengan laut.
Danau Tolire Besar mengandung air tawar dan banyak terdapat ikan. Namun masyarakat setempat tidak ada yang berani menangkap ikan atau mandi di danau itu. Mereka yakin, danau yang airnya berwarna coklat kekuning-kuningan itu dihuni oleh banyak buaya putih siluman yang panjangnya mencapai 10 meter. Buaya-buaya siluman ini konon sering terlihat berenang di tengah danau.
Tidak semua orang bisa melihat buaya siluman itu, hanya mereka yang beruntung saja yang bisa. Menurut masyarakat setempat, kalau berhati bersih baru berpeluang melihat buaya siluman di danau itu. Ada cerita juga, dulu ada seorang turis asing yang tidak percaya bahwa di danau itu ada buaya siluman. Wisatawan itu lalu turun dan mandi ke danau tersebut. Setelah berenang beberapa menit, ia menghilang. Warga meyakini turis itu dimangsa oleh buaya-buaya siluman tersebut.
Atraksi Unik
Ada atraksi unik di danau ini. Jika kita melempar sesuatu ke danau, seberapa pun kuatnya, tidak akan pernah menyentuh air danau. Padahal saat melempar dari pinggir atas danau, air danau terlihat berada di bawah kaki si pelempar. Bahkan tidak akan terlihat walaupun hanya percikan airnya. Batu-batu yang dilempar seperti menghilang tidak berbekas.
Oleh masyarakat sekitar danau, kegiatan inipun akhirnya dijadikan sebagai lahan bisnis. Mereka dengan serta merta akan menyediakan batu-batuan setiap kali ada pengunjung yang datang. Untuk lima buah batu harganya Rp 1.000.
Cerita lain yang beredar di masyarakat Ternate adalah di dasar Danau Tolire Besar banyak terdapat harta karun milik masyarakat Kesultanan Ternate saat Portugis menjajah Ternate pada abad ke-15. Masyarakat Ternate saat itu banyak membuang harta berharganya ke dalam danau, agar tak dirampas Portugis.
Ada sebuah cerita rakyat yang menghiasi keberadaan Danau Tolire Besar dan Danau Tolire Kecil itu. Menurut masyarakat setempat, kedua danau tersebut dulunya merupakan sebuah kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera. Kampung ini kemudian dikutuk menjadi danau oleh penguasa alam semesta, karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri.
Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau. Danau Tolire Besar dipercaya sebagai tempat si ayah, sedangkan Danau Tolire Kecil diyakini sebagai tempat si gadis. Kisah ini memang hanyalah sebuah legenda, namun bagi warga Ternate terutama para orang tua, sangat dijaga dan diyakini kebenarannya. Seharusnya dengan keberadaan legenda tersebut, pemerintah daerah bisa menjadikannya sebagai modal untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata yang banyak mendatangkan devisa

Batu Angus, Ternate



Oleh : Wiko Rahardjo
Ada suatu kawasan di kota Ternate yang disebut Batu Angus. Inilah sisa lelehan larva Gunung Gamalama yang megah itu.
Pada zaman Pleistochen, daratan pulau Ternate masih merupakan satu daratan dengan pulau-pulau seperti Morotai, Halmahera, Hiri, Maitara, Tidore, Mare, Moti, Makian, Kayoa, Bacan dan sebagainya yang terletak dalam rangkaian gunung berapi Zone Maluku Utara. Deretan pulau-pulau ini berada di sepanjang pantai barat pulau Halmahera di Propinsi Maluku Utara.
Perubahan alam yang terjadi selama ratusan-ribu tahun dan pergeseran kulit bumi secara evolusi telah membentuk pulau-pulau kecil di sepanjang "Jazirah tuil Jabal Mulku", (Istilah yang sering dipergunakan oleh Buya Hamka). Halmahera merupakan Pulau Induk dari di kawasan ini sekaligus menjadi dataran tertua, selain pulau Seram di Maluku Tengah.
Dari sudut pandang geologisnya, pulau Ternate merupakan salah satu dari deretan pulau yang memiliki gunung berapi, dari barisan garis ”strato vulkano active at south pacific” yang melintang di kawasan Asia timur ke Asia tenggara, dari utara ke selatan. Salah satu yang masih aktif di kepulauan Maluku Utara adalah gunung “Gamalama” di pulau Ternate dengan ketinggian 1.730 m. (Bangsa Portugis menyebutnya Nostra Senora del Rozario).
Gamalama tercatat pernah beberapa meletuskan semburannya pada tahun 1608, 1635, 1653, 1840 dan 1862. Letusan terhebat yang tercatat terjadi pada pertengahan abad ke-18, tepatnya pada tanggal 10 Maret 1737 yang bertepatan dengan 22 Dzulkaidah 1149.H yang mengakibatkan aliran lahar dari puncak hingga mencapai laut yang dikenal sekarang dengan “Batu Angus”. (sumber; F.S.A. de Clerq, Bijdragen tot de Kennis der Residentie van Ternate, Leiden, 1890).
Sisa-sisa letusan itu hinggi kini masih bisa Anda saksikan jika berkunjung ke Desa Batu Angus, sekitar lima belas menit perjalanan darat ke arah utara dari pusat kota Ternate. Di sana serakan larva beku membentuk komposisi unik tersendiri. Menyajikan pemandangan yang menakjubkan karena berlatar belakang Gunung gamalama yang selalu terselimuti Kabut tipis.
Batu Angus, demikian warga ternate menyebut serakan tersebut. Tahun demi tahun pemanfaatan terhadap bebatuan yang berwarna hitam legam ini pun terus berjalan. Warga memanfaatan serakan-serakan tersebut guna sebagai bahan bangunan. Terutama pondasi rumah.
Dari kawasan Batu Angus, jika andfa berhasil mencapai salah satu tempat tertingginya akan menyaksikan hamparan laut nan luas. Memanjakan mata bagi yang suka berpetualang.